WhatsApp Image 2026-08-04 at 09.12.51

Jamasan Bendhe Becak

Setiap tahunnya, tepat ketika penanggalan Jawa memasuki bulan Sapar, keheningan kompleks Sendang Pasiraman di Desa Katekan, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, mendadak berubah wujud menjadi lautan manusia. Ratusan warga, yang terdiri dari penduduk lokal maupun para peziarah dan pendatang dari luar daerah, berbondong-bondong berkumpul dengan satu tujuan spiritual yang sama: menghadiri dan menyaksikan langsung tradisi sakral Jamasan Pusaka Bende Becak. Ritual tahunan ini pada hakikatnya merupakan sebuah upacara penyucian gong kecil (bende) yang diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat setempat sebagai benda pusaka peninggalan sosok legendaris, Dewi Nawang Wulan.

Sejarah di balik lahirnya tradisi ini menyimpan sisi mistis dan daya tarik narasi yang sangat kuat. Konon, pelaksanaan upacara ini bermula dari sebuah pengalaman spiritual yang dialami oleh leluhur juru kunci Sendang Pasiraman masa lampau. Dalam kisahnya, sang juru kunci terus-menerus didatangi oleh sosok Dewi Nawang Wulan melalui bunga tidur pada setiap malam Jumat. Di dalam pesan gaib tersebut, sang Dewi menitipkan amanat dan meminta secara spesifik agar pusaka miliknya dimandikan menggunakan air suci dari sendang setempat yang dicampur dengan luluran bedak. Meskipun pada awalnya wangsit tersebut sempat diabaikan karena dianggap sekadar mimpi belaka, perintah tersebut akhirnya dilaksanakan secara tertib. Kini, ritual tersebut telah mengakar kuat dan menjadi agenda kebudayaan besar yang terus dilestarikan.

Rangkaian prosesi Jamasan Bende Becak selalu dimulai dengan suasana yang penuh khidmat. Bende Becak yang diletakkan secara rapi di dalam besek besar dikirab perlahan dari kediaman kepala dusun menuju area puncak Sendang Pasiraman. Perjalanan mengiringi pusaka ini dikawal ketat oleh ratusan putri-putri dan barisan pengawal yang mengenakan busana adat Jawa. Iring-iringan ini tidak hanya menciptakan visual yang memukau, tetapi juga menghadirkan suasana religius yang sangat kental akan nuansa tata krama keraton dan kebudayaan Jawa yang adiluhung.

Puncak dari segala keriuhan acara ini terjadi sesaat setelah prosesi utama penjamasan atau pencucian pusaka dinyatakan selesai. Suasana sakral dan tenang mendadak pecah, berubah menjadi riuh rendah ketika warga mulai merangsek dan berdesakan memperebutkan air bekas cucian pusaka yang telah ditampung di dalam wadah gerabah atau ngaron. Masyarakat memiliki keyakinan mendalam bahwa air yang telah bercampur dengan bedak tersebut mengandung tuah dan berkah luar biasa, mulai dari khasiat menyembuhkan berbagai penyakit fisik hingga mitos dapat membuat wajah tampak awet muda. Tak hanya air jamasan, nasi bancaan berisi aneka lauk yang dibungkus dengan daun jati pun ludes tak bersisa menjadi rebutan para hadirin yang antusias.

Bagi masyarakat luas, fenomena “ngalap berkah” ini bukanlah sekadar euforia berebut materi semata, melainkan wujud nyata dari keyakinan spiritual dan bentuk penghormatan tertinggi terhadap warisan leluhur. Tradisi Jamasan Bende Becak berhasil menyatukan dimensi sejarah, kepercayaan gaib, dan kebersamaan warga dalam satu ikatan pelestarian budaya yang tak lekang dimakan oleh zaman.

Destinasi Wisata, Wisata Budaya