Kabupaten Grobogan menyimpan kekayaan budaya yang unik, salah satunya adalah tradisi Asrah Batin. Ritual adat ini bukan sekadar perayaan rutin, melainkan sebuah penghormatan terhadap sejarah dan ikatan darah yang menghubungkan dua desa, yaitu Desa Karanglangu dan Desa Ngombak). Tradisi ini diselenggarakan setiap dua tahun sekali, tepatnya pada tahun genap di bulan September, dengan mengambil hari sakral Minggu Kliwon.

Sejarah Kedhana dan Kedhini

Akar dari Asrah Batin adalah kisah legendaris tentang pasangan saudara kandung, Raden Sutejo dan Roro Musiah, yang dikenal sebagai figur Kedhana dan Kedhini. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, keduanya adalah leluhur sekaligus pendiri Desa Karanglangu dan Desa Ngombak. Nasib membawa mereka pada perpisahan yang panjang sejak masa kanak-kanak. Takdir baru mempertemukan mereka kembali setelah keduanya dewasa dan sama-sama menjabat sebagai pemimpin. Raden Sutejo menjadi Kepala Desa Karanglangu (saudara tua), sementara Roro Musiah menjadi Kepala Desa Ngombak (saudara muda).

Kesepakatan kedua saudara untuk mengabadikan pertemuan mengharukan tersebut akhirnya melahirkan upacara Asrah Batin. Kata “Asrah” berarti menyerahkan atau pasrah, sementara “Batin” merujuk pada ikatan batin yang kuat. Tradisi ini menjadi simbol penyatuan dua jiwa dan dua wilayah yang secara geografis terpisahkan oleh aliran Sungai Tuntang.

Prosesi dan Keunikan Ritual

Rangkaian acara dimulai dengan Tradisi Tubo, yaitu aktivitas warga mencari ikan secara massal di Sungai Tuntang. Ikan hasil tangkapan ini nantinya diolah menjadi hidangan khas berupa bothok ikan mangut untuk disajikan saat acara puncak.

Puncak prosesi ditandai dengan perjalanan utusan dari Desa Ngombak untuk menjemput rombongan dari Desa Karanglangu. Uniknya, rombongan dari Karanglangu harus menyeberangi derasnya Sungai Tuntang menggunakan rakit atau getek yang telah disiapkan khusus oleh warga Ngombak. Pertemuan kedua rombongan di pinggir sungai menciptakan suasana emosional yang menggambarkan kehangatan keluarga.

Salah satu momen yang paling dinanti warga adalah perebutan bedak boreh dan nasi munggut. Masyarakat meyakini bahwa bedak boreh tersebut memiliki khasiat mistis untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat wajah tampak awet muda. Sementara itu, nasi munggut yang berisi lauk dari hasil Tubo diperebutkan sebagai simbol keberkahan hidup.

Makna dan Pelestarian

Tradisi ini bukan hanya tentang melestarikan warisan leluhur, tetapi juga berfungsi sebagai perekat sosial yang memperkuat tali silaturahmi dan rasa kebersamaan antarwarga desa. Melalui Asrah Batin, Sungai Tuntang tidak lagi dianggap sebagai pemisah, melainkan jembatan batin yang menyatukan masyarakat dalam semangat gotong royong dan persaudaraan yang abadi.

Super 11