Setiap tahunnya pada bulan Sapar, kompleks Sendang Pasiraman di Desa Katekan, Kecamatan Brati, Grobogan, mendadak berubah menjadi lautan manusia. Ratusan warga, baik penduduk lokal maupun pendatang dari luar daerah, berkumpul dengan satu tujuan yang sama: menghadiri tradisi sakral Jamasan Pusaka Bende Becak. Ritual ini merupakan upacara pensucian sebuah gong kecil (bende) yang diyakini secara turun-temurun sebagai benda pusaka peninggalan sosok legendaris, Dewi Nawangwulan.

Sejarah tradisi ini menyimpan sisi mistis yang kuat. Konon, upacara ini bermula dari pengalaman spiritual leluhur juru kunci Sendang Pasiraman yang terus-menerus didatangi Dewi Nawangwulan dalam mimpi setiap malam Jumat. Dalam pesan gaib tersebut, sang Dewi meminta agar pusaka miliknya dimandikan menggunakan air sendang setempat yang dicampur dengan luluran bedak. Meski awalnya sempat diabaikan, perintah tersebut akhirnya dilaksanakan secara rutin hingga menjadi tradisi besar yang kita kenal sekarang.

Prosesi dimulai dengan penuh khidmat. Bende Becak yang diletakkan di dalam besek besar dikirab dari kediaman kepala dusun menuju puncak Sendang Pasiraman. Perjalanan pusaka ini dikawal ketat oleh ratusan putri dan pengawal berpakaian adat, menciptakan suasana yang sangat religius dan kental akan nuansa budaya Jawa.

Puncak keriuhan terjadi sesaat setelah prosesi penjamasan selesai. Suasana tenang mendadak berubah menjadi riuh ketika warga mulai berdesakan memperebutkan air bekas cucian pusaka yang disimpan dalam wadah gerabah atau ngaron. Mereka meyakini bahwa air yang telah bercampur bedak tersebut mengandung berkah luar biasa, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga membuat wajah tampak awet muda. Tak hanya air, nasi bancaan yang dibungkus daun jati pun ludes menjadi rebutan.

Bagi masyarakat, fenomena “ngalap berkah” ini bukan sekadar berebut materi, melainkan wujud keyakinan spiritual dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Tradisi Bende Becak berhasil menyatukan dimensi sejarah, kepercayaan gaib, dan kebersamaan warga dalam satu ikatan budaya yang tak lekang oleh zaman.

Super 11