Di pinggiran Kabupaten Grobogan, tepatnya di Desa Tlogorejo, Kecamatan Tegowanu, terdapat sebuah fenomena budaya yang memadukan spiritualitas dengan geliat ekonomi kerakyatan. Setiap hari Jumat Wage dalam penanggalan Jawa, sebuah kawasan sunyi di sekitar makam keramat berubah menjadi pasar tiban yang sesak oleh ribuan manusia. Fenomena ini bukan sekadar aktivitas jual beli biasa, melainkan sebuah tradisi turun-temurun yang masih terjaga keasliannya hingga hari ini.

Ziarah yang Menggerakkan Ekonomi

Awal mula keramaian ini berpusat pada kompleks makam Kyai Santri Joko Suruh, seorang tokoh penyebar agama Islam yang diyakini memiliki kaitan erat dengan Sunan Kalijaga. Para peziarah datang dari berbagai penjuru, seperti Semarang, Demak, hingga Kudus, untuk melakukan tradisi “Midang” atau membayar nazar.

Seiring berjalannya waktu, kedatangan ribuan peziarah ini ditangkap sebagai peluang oleh para pedagang. Maka lahirlah Pasar Jumat Wage. Pasar ini menawarkan segala hal, mulai dari perabotan bambu, pakaian, bibit tanaman, hingga jajanan pasar yang sulit ditemukan di tempat lain. Namun, di antara ratusan lapak yang ada, ada satu kuliner yang menjadi identitas utama pasar ini: Tapak Belo.

Tapak Belo: Si Jejak Kaki yang Legendaris

Jika Anda bertanya kepada pengunjung lama, mereka akan sepakat bahwa kunjungan ke Tegowanu belum lengkap tanpa mencicipi Tapak Belo. Nama kuliner ini tergolong unik; dalam bahasa Jawa, tapak berarti telapak atau jejak kaki, dan belo berarti anak kuda. Bentuk kuenya memang menyerupai jejak kaki kuda, sebuah visualisasi yang sederhana namun ikonik.

Tapak Belo terbuat dari bahan utama tepung beras atau ketan yang diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan tekstur yang kenyal dan padat. Rasanya yang gurih berpadu sempurna dengan taburan kelapa parut atau kucuran saus gula merah cair. Keunikan utama Tapak Belo bukan hanya pada rasanya, melainkan pada eksklusivitasnya. Anda hampir tidak akan menemukan penjual Tapak Belo di hari biasa atau di pasar lain di Grobogan. Ia adalah “kuliner musiman” yang hanya menampakkan diri seiring dengan munculnya hari Jumat Wage.

Menjaga Warisan Lokal

Meski zaman telah berganti dan pusat perbelanjaan modern menjamur, Pasar Jumat Wage Tegowanu tetap memiliki magnet tersendiri. Bagi masyarakat setempat, menyantap Tapak Belo di bawah keteduhan pohon besar sekitar makam adalah cara untuk merayakan sejarah dan merawat ingatan masa kecil.

Pasar Jumat Wage dan Tapak Belo adalah bukti nyata bahwa tradisi lokal mampu bertahan selama memiliki akar yang kuat pada masyarakatnya. Ia bukan sekadar transaksi ekonomi, melainkan ritual budaya yang menyatukan doa, silaturahmi, dan rasa syukur dalam satu bungkus makanan tradisional yang bersahaja.

Super 11