
Kabupaten Grobogan tengah bersiap menyambut tonggak sejarah yang luar biasa. Menuju perayaan Hari Jadi ke-300 pada tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Grobogan menggelar rangkaian kegiatan yang sarat akan makna spiritual dan penghormatan terhadap akar budaya. Pada Jumat, 30 Januari 2026, sebuah prosesi ziarah dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh yang telah meletakkan fondasi kepemimpinan di bumi Grobogan.
Kegiatan ini dipimpin oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Grobogan, Drs. Kurnia Saniadi, M.Si., didampingi oleh Kepala Disporabudpar Grobogan beserta Sekretaris, para Kepala Bidang, serta Camat Grobogan. Kehadiran para pemangku kebijakan ini menegaskan bahwa kemajuan daerah tidak boleh melepaskan diri dari nilai-nilai luhur masa lalu.

Ziarah Tokoh Kunci: Dari Adipati Puger hingga Putri Hamengku Buwono I
Rangkaian ziarah dimulai dengan mengunjungi makam Adipati Puger, sosok sentral dalam sejarah awal Grobogan. Suasana khidmat menyelimuti rombongan saat doa bersama dipanjatkan. Perjalanan berlanjut ke makam Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Adipati Haryo Suryonegoro, atau yang dikenal sebagai R.M. Suwandi/Yudonegoro.

Salah satu titik ziarah yang memiliki nilai sejarah tinggi adalah makam Gusti Ratu Bandoro (R.A. Setyaningrum). Beliau bukan sekadar bangsawan, melainkan putri kesayangan raja pertama Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I. Keberadaan makam ini menjadi bukti kuat adanya relasi historis dan kultural yang erat antara Grobogan dengan Kesultanan Mataram Yogyakarta.

Penghormatan juga diberikan kepada Adipati VII PB Yudonegoro, yang menjabat pada kurun waktu 1768-1775, serta tokoh-tokoh penting lainnya seperti Sosronegoro I, Sosronegoro II, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Soenarto, dan RT Adipati Mertohadi Negoro.

Refleksi Menuju Masa Depan
Bagi Pemerintah Kabupaten Grobogan, ziarah ini bukan sekadar rutinitas seremonial. Menurut Drs. Kurnia Saniadi, kegiatan ini adalah momentum refleksi untuk menyerap semangat pengabdian para pendahulu. Menjelang usia ke-300 tahun, Grobogan dituntut untuk terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri.
Melalui sinergi antara semangat budaya dan kearifan lokal, peringatan tiga abad ini diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Grobogan. Dengan menghargai jasa para leluhur, Kabupaten Grobogan optimis dapat menyongsong masa depan yang semakin maju, berkarakter, dan membanggakan bagi generasi mendatang.
