
Dalam rangka merayakan momen sangat bersejarah, yakni Hari Jadi Kabupaten Grobogan yang genap berusia 3 Abad (300 tahun), Pemerintah Kabupaten Grobogan sukses menggelar acara spektakuler berupa pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara kebudayaan yang menjadi salah satu puncak perayaan ini dilangsungkan dengan meriah di Alun-alun Purwodadi pada Kamis, 2 April 2026, dan disambut oleh antusiasme ribuan warga dari berbagai penjuru kecamatan.
Pagelaran wayang kulit istimewa ini menghadirkan dalang kondang, Ki Cahyo Kuntadi, yang membawakan lakon penuh makna bertajuk “Sang Panji Pamungkas”. Lakon ini dipilih secara khusus karena sarat akan pesan filosofis mengenai kepemimpinan, kearifan lokal, kejayaan, serta semangat pantang menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan zaman. Kepiawaian Ki Cahyo Kuntadi dalam memainkan sabetan wayang, dipadukan dengan iringan gamelan yang memukau, membuat suasana malam di pusat kota Purwodadi semakin hidup dan hangat.

Acara akbar ini dibuka secara resmi melalui sambutan dari Wakil Bupati Grobogan, H. Sugeng Prasetyo. Dalam pidato sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian luar biasa Kabupaten Grobogan yang kini menapaki usia tiga abad.
“Tiga ratus tahun bukanlah waktu yang singkat. Malam ini adalah momentum refleksi bagi kita semua untuk mengenang perjalanan panjang sejarah Grobogan, sekaligus menguatkan tekad dan sinergi untuk terus membangun daerah yang kita cintai ini menuju masa depan yang lebih maju, sejahtera dan berkelanjutan,” ujar H. Sugeng Prasetyo di hadapan lautan penonton.

Turut memberikan sambutan dalam acara tersebut, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Grobogan, Dr. Wahono, S.Pd., M.Pd. Beliau secara khusus menekankan pentingnya melestarikan seni tradisional di tengah gempuran arus modernisasi dan digitalisasi.
“Pagelaran wayang kulit pada peringatan 3 Abad Grobogan ini bukan sekadar tontonan hiburan bagi masyarakat, melainkan juga sebuah tuntunan. Ini adalah wujud komitmen nyata pemerintah daerah dalam merawat warisan budaya leluhur. Kami berharap generasi muda Grobogan dapat terus mengenal, mencintai, dan ikut serta melestarikan kesenian wayang kulit agar tidak lekang oleh waktu,” tutur Dr. Wahono.
Selain menjadi ajang pelestarian seni budaya, kemeriahan di Alun-alun Purwodadi juga memberikan dampak perputaran ekonomi yang sangat positif bagi warga lokal. Ratusan pedagang kecil dan pelaku UMKM yang memadati area sekitar alun-alun turut merasakan berkah dari membeludaknya pengunjung.
Kesuksesan pagelaran wayang kulit “Sang Panji Pamungkas” ini menjadi bukti nyata tingginya kecintaan masyarakat Grobogan terhadap kebudayaan tradisional. Peringatan tiga abad ini diharapkan menjadi tonggak sejarah yang terus menginspirasi seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kerukunan dan bersama-sama memajukan Kabupaten Grobogan.
